Senin, 24 September 2012

Sapi Jantan Unggul


PENDAHULUAN
Latar Belakang
Sebelum majunya teknologi dan berkembangnya inovasi, seorang peternak sapi harus mendatangkan sapi jantan untuk membuat sapi-sapi betinanya bunting. Bahkan untuk memperoleh anakan sapi yang unggul, peternak sapi harus mendatangkan sapi jantan yang memiliki kualitas unggul.Hal ini dikarenakan sapi betina baru bisa bunting manakala sel telur milik sapi betina bertemu dengan spermatozoa (sel sperma) milik sapi jantang di dalamestrus sapi betina. Namun terkadang tidak diperoleh hasil yang memuaskan.
Dibeberapa kondisi upaya tersebut tidak membuahkan hasil karena ternyatasalah satu dari sapi dalam kondisi steri, sehingga tidak terjadi ovulasi.Selain itu, kondisi sapi betina dan sapi jantan harus dalam masa birahi.Yakni masa di mana kedua sapi siap untuk kawin. Bilamana hanya satu sapiyang dalam kondisi birahi, maka kegiatan fertilisasi pun tidak dapatdilaksanakan.Pada era modern ini banyak cara yang dapat dilakukan untuk membuatseekor sapi betina menjadi bunting tanpa perlu mendatangkan pejantan. Salahsatunya adalah dengan Inseminasi Buatan. Inseminasi Buatan (IB) atau kawinsuntik adalah suatu cara atau teknik untuk memasukkan mani (sperma atausemen) yang telah dicairkan dan telah diproses terlebih dahulu yang berasaldari ternak jantan ke dalam saluran alat kelamin betina dengan menggunakanmetode dan alat khusus yang disebut ”insemination gun” Dengan inseminasi buatan memungkinkan manusia mengawinkan ternak betina yang dimilikinyatanpa perlu seekor pejantan utuh. Inseminasi buatan dilakukan oleh kebanyakan peternak sapi denganharapan memperoleh sapi anakan yang memiliki kualitas unggul.
Namun tidak selamanya kegiatan Inseminasi buatan mampu memberikan keturunan unggul pada sapi. Bahkan dalam beberapa kasus, dikenal istilah sapi tidak buntingmeskipun sudah dilaksanakan inseminasi buatan. Hal ini menandakan bahwakegiatan inseminasi buatan yang telah dilaksanakan tidak berhasil atau gagal.Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan peternak dalam melakukan inseminasi buatan. Yang utama adalah inseminasi buatansangat ditentukan oleh kemampuan dari peternak dalam hal deteksi estrus sapi betina, sebab dengan deteksi estrus yang tepat dapat membantu operator inseminassi buatan dalam menentukan waktu yang tepat dalam melakukaninseminasi buatan.
Selain itu, operator inseminasi buatan juga harus berpengalaman dalam penanganan semen dan juga penempatan semen kedalam saluran reproduksi sapi betina. Faktor-faktor lain yang juga turutmempengaruhi keberhasilan inseminasi buatan adalah seperti kondisi semensapi jantan yang harus dalam keadaan “sehat” dan tingkat fertilitas maupunkondisi sapi betina itu sendiri. Sehingga dapat ditentukan pula sapi betinamana yang sehat dan cocok untuk inseminasi buatan
PEMBAHASAN
Saat ini masalah utama pengembangan ternak sapi di Indonesia adalah terbatasnya jumlah bibit baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Problem tersebut menjadikan kebutuhan daging sapi Indonesia tidak tercukupi dan akhirnya harus mengimpor daging dari Australia. Padahal jika mengoptimalkan penerapan teknologi peningkatan mutu genetik sapi, Indonesia mampu memenuhi kebutuhan daging dalam negeri.
Peneliti Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI, Baharuddin Tappa, telah mengembangkan tiga model untuk meningkatkan mutu genetik sapi, yakni Inseminasi Buatan (IB), Transfer Embrio (TE) dan Sexing Sperma (Pemisahan sperma). Baharuddin mengatakan model inseminasi buatan merupakan upaya meningkatkan mutu sapi dengan memanfaatkan potensi sapi pejantan unggul.
"Ini sama dengan kawin suntik. Kemampuan kawin sapi jantan terbatas, untuk itu sperma disuntikkan ke sapi betina," ujar Baharudin saat dihubungi VIVAnews, 18 April 2012. Dengan model ini, sapi jantan yang biasanya hanya mampu mengawini 50 sampai 70 sapi betina per tahun, kini dapat mencapai 5 ribu sampai 10 ribu perkawinan per tahun. "Namun saat ini banyak sapi pejantan unggul yang dijual untuk dipotong, hampir tidak ada di peternak saat ini," kata lulusan Nippon Veterinary and Animal Science University, Tokyo, Jepang ini.
Model kedua yakni Transfer Embrio. Metode ini memanfaatkan sapi pejantan dan sapi betina dengan melakukan pembuatan di dalam rahim atau di luar rahim (bayi tabung). "Kalau di luar rahim, embrio dititipkan ke betina lain, istilahnya induk titipan," katanya. Sedangkan metode yang ketiga yakni Sexing Sperma atau pemisahan sperma X dan Y. Metode peningkatan populasi dengan menentukan jenis kelamin sapi yang akan dilahirkan. "Jadi mau pilih jantan atau betina tinggal disesuaikan, harusnya yang diperbanyak yang betina," ujarnya.
Adapun saat ini komposisi populasi sapi masing imbang, setengah betina dan setangah jantan. "Tapi jika untuk masyarakat pembibitan ya betina, tapi jika untuk masyarakat yang ingin penggemukan dibuat lahir yang jantan," tuturnya.
Metode penentuan jenis kelamin ini menurutnya sangat signifikan, yakni dari penentuan 80 sampai 90 persen sesuai dengan keinginan. Pengembangan mutu genetik sapi ini sudah dikembangkan sejak tahun 1999, dengan penerapan sejak 5 tahun terkahir, mengingat harus diawali dengan penelitian terlebih dahulu. LIPI sudah menerapkan upayameningkatkan mutu genetika dan jumlah populasi ini di beberapa tempat. Salah satunya di Jawa Barat yakni Garut, Tasikmalaya dan Lembang. Ia berharap agar pemerintah mulai serius untuk meningkatkan populasi sapi di Indonesia dengan membeli sapi unggulan baik betina ataupun jantan untuk diterapkan dengan teknologi tersebut. Ini disebabkan banyak sapi unggulan yang percuma hanya dijual dan dipotong.  "Sapi jantan unggulan banyak yang dipotong, sedangkan betina yang produktif berkurang juga, ya itulah bagaimana sekarang pemerintah kebijakannya, beli sapi-sapi itu," katanya
Penurunan  sapi potong  selama periode  tahun 2002 – 2006  sebanyak  - 2,63 % per tahun , hal ini  diduga  penyebabnya adalah:  (1). Tidak seimbang antara produksi  dan permintaaan  daging, (2). Tingginya angka pemotongan ternak betina produktif dan kesadaran  masyarakat/peternak akan meminimalkan  pemotongan betina produktif masih rendah, (3) Rendahnya angka kelahiran  dan  panen  pedet, (4). Tingkat pengeluaran ternak sapi dan kerbau untuk tujuan perdagangan antar pulau tidak terkontrol, terutama yang dilakukan pedagang antar pulau illegal, (5). Hilangnya daerah penyangga populasi yang masuk dalam wilayah Sulawesi Barat, dan (6) Tidak adanya  pembibitan  terprogram
Faktor penyebab penurunan diatas  telah  dibuktikan dengan kajian data tingkat pemotongan tingkat pengeluaran sapi,  tingkat  pemasukkan dan tingkat kelahiran pada tahun  2005.  Berdasarkan laporan, total populasi ternak sapi potong pada tahun 2005 adalah 594.316 ekor, jumlah betina dewasa sebanyak 237.726 ekor (diperkirakan 40%) dan 30 % akseptor kawin alam ~ 178.295 ekor dan tingkat kelahiran alami diperkirakan 20 %.  Atas dasar itu telah diperoleh  persentase  pertambahan populasi ( pemasukan sapi, kelahiran baik hasil IB maupun kawin alam) mencapai 7, 42 % , sedangkan  persentase  pengurangan populasi ( pemotongan, pengeluaran ternak dan kematian)  mencapai 13,29%  sehingga laju penurunan populasi per tahun  adalah – 4,59 %.   Namun demikian,  menurut Laporan Statistik Peternakan 2008, pada tahun 2006 jumlah populasi sapi sebanyak 637.128 ekor dengan  persentase  pertambahan populasi  mencapai 26,32 % , sedangkan  persentase  pengurangan populasi  mencapai  17% %  sehingga terjadi laju kenaikkan  populasi per tahun  adalah 9,32  %. dan  jumlah populasi  tahun 2007  sebanyak 668.622 ekor.  Perbedaan utama  data diatas disebabkan karena adanya perbedaan  tingkat kelahiran, pada tahun  2005 tingkat kelahiran hanya dicapai  20% dari populasi betina , sedangkan pada tahun 2006  diperoleh  26,04 %. dari  total populasi.

Berdasarkan data diatas, untuk mendapatkan tambahan kelahiran (populasi sapi dewasa)   sebanyak  38.106 ekor  Provinsi  Sulawesi Selatan  c/q Dinas Peternakan  harus menyediakan  betina akseptor tambahan  sebanyak  54.438  ekor dan  pejantan sebanyak  248 ekor  untuk tujuan  kawin alam.    Permasalahan ternak ini sangat sulit di lapangan, misalnya  untuk  penyediaan  pejantan,  pada setiap  hari raya qurban Iedul Adha,  ratusan sampai ribuan ekor jantan dipotong setiap tahunnya, termasuk calon pejantan dan pejantan berkualitas. 
Tetapi pemerintah daerah tidak memanfaatkanya  untuk menseleksi  dan  membeli pejantan dimana  pada periode tersebut  merupakan upaya yang tepat untuk menseleksi pejantan yang ada dilapangan.   Jumlah betina akseptor  sebaiknya berasal dari luar provinsi  Sulawesi Selatan atau sapi betina impor (sapi bunting), jika sapi betina akseptor disediakan  berasal  dari dalam provinsi maka  tidak ada penambahan  populasi.  
Pertanyaannya sekarang  adalah  mampukah  pemerintah daerah  Provinsi Sulawesi Selatan , cq Dinas  Peternakan,  menyediakan  betina akseptor  dan pejantan sebanyak   itu ?     Apakah ada strategi lain untuk mencapai target  sejuta ekor pada tahun  2013 ?   Berapa persen  laju peningkatan populasi  sapi per tahun, dengan kondisi populasi sapi sekarang,  yang harus dicapai  untuk mencapai target yang telah ditetapkan.  Masih banyak  pertanyaan  yang perlu  dicari  solusinya  dan dijabarkan  dalam bentuk  program aksi  di masyarakat.
Selain trend penurunan populasi sapi di Sulawesi Selatan, penurunan kualitas genetik dan reproduksi juga terjadi.  Parameter reproduksi seperti calf crop (tingkat kelahiran) turun dari 16 bulan menjadi 20 bulan, berat lahir turun dari rata-rata 15,9 kg turun menjadi 11,5 kg dan umur melahirkan pertama semakin melambat dari 28,57 bulan menjadi 41,8 bulan.  Hasil survei di sentra pengembangan sapi Bali murni kabupaten Barru dan di daeran bukan pengembangan sapi Bali, kabupaten Maros dan Gowa, menunjukkan bahwa adanya penurunan kondisi eksterior  dan memperoleh sapi jantan dengan berat 275 – 300 kg sudah sangat susah (Sonjaya dkk 2007).
Berdasarkan PERMENTAN No: 54/Permentan/OT.140/2006.  Ukuran tubuh sapi Bali jantan berumur  24 – 36  bulan, tinggi gumba kelas I  adalah minimal 119 cm dengan panjang badan  minimal 121 cm, sedangkan untuk betina berumur  18 – 24 bulan, tinggi gumbanya  minimal 105 cm dengan panjang badan minimal 104 cm.  Ukuran tubuh sapi  Bali sekarang  di Sulawesi Selatan umumnya  berada kelas II bahkan sampai kelas III, tinggi pundak sapi Bali jantan hanya berkisar 111,33 – 112,22 cm.  Hal ini menunjukkan bahwa  bukan saja  jumlah ternak sapi potong yang perlu ditingkatkan, akan tetapi juga  perlu sinergi dengan peningkatan  mutu bibit sapi sehingga sapi selain bisa dijual, juga daya saing kualitasnya tinggi.


Seleksi Bibit
Memilih sapi untuk calon bibit/bibit:
  1. Pejantan: Seleksi menyangkut kesehatan fisik, kualitas semen dan kapasitas servis.
  2. Betina : Seleksi menyangkut kondisi fisik dan kesehatan, kemiringan vulva tidak terlalu keatas, mempunyai puting 4 buah, bentuk ambing relatif besar dengan bentuk yang simetris.
  3. Pilihlah sapi dara yang penampilannya mencerminkan sapi yang sehat, matanya jernih, selaputnya tidak kotor atau merah, bulu badannya halus serta mengkilat.
  4.  Kondisi tubuhnya padat berisi, tapi tidak gemuk  
  5. Bagian leher dan bahunya lebar
  6.  Bagian dada lebar, dalam dan menonjol ke depan
Ukuran minimum vital statistik bibit sapi Bali
Ukuran menurut jenis kelamin
Muda
Dewasa
Jantan


Panjang badan
127 cm
134 cm
Tinggi gumba
112 cm
126 cm
Lingkar dada
185 cm
193
Umur
2-3,5 tahun
maks 8 tahun



Betina


Panjang badan
116 cm
120 cm
Tinggi gumba
105 cm
115 cm
Lingkar dada
162 cm
115 cm
Umur
2,35 tahun
maks 8 tahun



Langkah-langkah Memilih Pejantan
v Ciri-ciri pejantan sesuai dengan bangsa yang diinginkan, misalnya sapi Bali; Sapi Bali jantan berwarna hitam kemerahan dengan warna putih pada bagian pantat sampai perut dan lutut sampai ke
tumit. Kerangka badan besar dengan dada lebar dan dalam yang membentuk kerucut kearah perut
belakang.
v Bila diketahui catatan produksi dan asal usul/keturunan (recording), pilih ternak yang memiliki pertumbuhan di atas rata-rata. Sebagai patokan pada umur 2 tahun (dilihat dari giginya yaitu memiliki
sepasang gigi tetap) berat berkisar 250 Kg atau lingkar dada sekitar 157 cm.
Menajemen Terpadu Pemeliharaan Sapi Bali
v Rangka badan besar dan panjang dengan tulang besar, dada lebar dan dalam dan mengerucut kearah perut belakang.
v Buah zakar lonjong dan besar dan simetris, seimbang antara kiri dan kanan
v Libido sex tinggi, dapat mengawini 3 betina sehari
v Memiliki temperamen yang tenang
v Nafsu makan tinggi Pejantan unggul yang siap mengikuti kontes ternak




Sumber :

Anonim, 2012 . Beternak Sapi Potong.http://jogjavet.wordpress.com/2007/12/21/beternak-sapi-potong/.

Bandini, Y. 1997. Sapi Bali. Penebar Swadaya, PT. Jakarta.
Dr. Ir Mashur M,S, 2003 Menajemen terpadu pemeliharaan sapi bali,Departemen pertanian badan penelitian dan penembangan pertanian balai pengkajian teknologi pertanian, Agronomi inovasi

 Sonjaya H,  2007. Mengkaji  Program  Sejuta ekor sapi  di Provinsi Sulawesi Selatan. Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin,Makassar. Diakses tanggal 31 Mei 2012.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar